Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

10/07/2016

Sebuah Kisah dari Si Aku #2

....Sambungan dari sebelumnya...
*
*
*
Dalam masa-masa menunggu lulusnya sekolah jenjang menengah ini, ia bertekad besar untuk masuk sebuah universitas ternama di jakarta, mulailah ia dengan berbagai cara agar mampu masuk dan membuktikan pada orang-orang yang dikasihinya bahwa dengan kejahilannya itu pun ia mampu tembus universitas impian. Namun sebuah tekad besar apabila tanpa restu besar dari kedua orangtuanya maka hasilnya akan minus bertambah-tambah, pasalnya semua jalur penerimaan ia lalui semua, dibarengi dengan terus menerus latihan mengerjakan soal-soal SPMB, namun itulah jalan yang memang Allah kehendaki polanya, semakin ia bertekad besar untuk masuk universitas semakin pula kedua orangtuanya memberi beberapa pilihan yang tidak ia kehendaki, dan bahkan bukan tidak ia kehendaki tapi tidak ia sukai. Bapak memberi pilihan untuk fokus belajar Al Qur’an,  yaa tahfidzul Qur’an, so what ? ini hal yang bukan hanya tidak mungkin, namun jauh dari sesuatu yang ia sukai. Tapi sekeras-kerasnya seorang anak, ketika ia melihat kedua orangtuanya maka tiada kata melainkan ingin taat kepadanya...
Dan memang jalan itu semakin terbuka pancarannya, meskipun belum bersinar tapi dari situlah pintunya. Karena akhirnya memang ia tidak Allah izinkan sesuai dengan pengharapannya masuk kampus impian dan feel free, Allah tidak izinkan untuk masuk dalam kebebasan dunia yang baginya adalah bahagia. Dengan sangat terpaksa dan hati yang belum tertata, akhirnya ia mengikuti apa yang dikehendaki kedua orangtuanya, masuk ke lembaga tahfidz dan tenggelam bersama didalamnya. Ia menemukan banyak oase-oase di padang pasir nan gersang lalu sejuk seketika, damai seketika dan sakinah dalam hatinya seketika. Masuk pada lingkaran yang jauuh dari bayangannya dalam menatap masa depan.
            Rumah Qur’an STAN, jejak pertama yang ia tapaki bersama kasih sayang Allah dalam hidayahnya yang begitu tak terasa, termenung dan syahdu dalam qalbu ketika sang diri berada diantara hamba-hambaNya yang dalam berucappun selalu kembali padaNya, laku yang tertata indah dalam syariatnya, tauladan yang tidak pernah merasa baik di mata Allah dan RasulNya, itulah mereka kakak-kakak yang dengan lembut membawa rasa yang berada di dasar ini untuk tidak menolak sentuhannya, yang shalat malamnya tidak  ditemukan dalam keramaian, yang dzikir malamnya tidak ditemukan dalam kelalaian, izinkan diri ini memanggil kakak dengan bahasa ahlullah wa khossotuhu, bukan hanya Al Qur’an yang berjalan, namun setiap akhlaqnya memang bersumber dari kehendak Allah dalam kitabNya, izinkan diri ini menyebut satu persatu nama yang hari ini hanya terkenang dalam ingatan membersamai mereka dalam cinta di Rumah Qur’an STAN, mereka adalah Kak Azmi, Kak runa, Kak Umi, Kak Arifah, Kak desi, Kak Risa, Kak Risi, Kak Atika, Mba Olif, Mba Umul, Mba iyuk dan terutama Mba Dewi musyrifah tercinta, yang pabila bukan karena ikhtiarnya mengajari si aku dalam memperbaiki bacaan Al Qur’an, tentulah bacaannya masih sekelas anak-anak TPA yang baru mengenal huruf-huruf hijaiyah, namun berkat tangan, bahasa pengajaran dan do’anya juga beroleh perbaikan yang bukan hanya baik dan manfaat bagi diri namun bagi sekitarnya pula. Jazakumullah khairan jaza telah menjadi washilah terjadinya proses akselerasi diri dalam satu tahun terakhir bersama para Ahlullah.
            Dalam proses pengembalian diri ke fitrahnya, ternyata hatinya masih berada dalam putih abu-abu karena disatu sisi ia berada dalam kondisi yang secara otomatis membuat ia berubah dan berikhtiar lebih untuk mencintaiNya, disisi lain ia masih berada dalam keabu-abuan karena masih dalam keliru bersama dengan kakak kelasnya yang berniat besar untuk menuju ke jenjang pernikahan. Dibalik  abu-abu itu terdapat banyak sesuatu yang besar dan mengharuskan ia mengambil keputusan, agar semua menjadi satu warna. Pabila kembali diratapi kala itu, rasa suka yang sudah terlanjur dalam tentu sangat mendominasi dan banyak memberi opsi, “ngafal Qur’an sambil punya pacar gak masalah loh yaa, yang penting fokus satu-satu” dan suatu hal yang tidak mungkin jika hubungan yang sudah berjalan sekitar lima belas bulan itu berakhir dengan tidak berujung dalam niatan besar sebuah pernikahan. Akhirnya sampailah pada suatu malam yang entah kenapa, padahal tidak ada input apapun yang masuk dalam dirinya sehingga ia memutuskan suatu keputusan besar untuk mengakhiri keabu-abuan itu dalam pesan singkat “Aku punya cita-cita memiliki anak shalih dan shalihah, tapi bagaimana bisa mereka lahir dari seorang Ibu yang gemar bermaksiat, yang dalam proses pencarian Si Ayah anak Shalih dan Shalihah itu ternyata melalui jalan yang tidak Allah sukai dan sangat tidak Allah Ridhoi” melalui pesan singkat yang banyak membuat bergetarnya diri inilah akhirnya hubungan itu berakhir, dan jawaban dari seseorang diseberang sana itu baru terbalas tiga bulan kemudian dengan percakapan yang amat baik dan berakhir dengan baik pula, saling memaafkan setiap kesalahan dan kemaksiatan kami dan pesan terakhir darinya “Maaf untuk berpisah dek”. Seketika itu air mata langsung menghujani banyak-banyak keputusan ini, antara proses perbaikan diri dan proses menghentikan segala bentuk perasaan terhadapnya. ***
            Beberapa waktu berlalu setelah aktif dalam kebiasaan membersamai Al Qur’an dan berniat besar mengkhatamkannya, bukan hanya menjadikan hafalan sebagai kunci memperoleh syurga, namun dari Al Qur’anlah segala laku mampu mendominasi dalam sikap kesehariannya. Menghafal Al Qur’an bukan lagi soal kewajiban namun soal kebutuhan yang kala tak sengaja terlewati maka diri akan otomatis melemah penguasaannya. Tentu bukan hanya menghafal, namun ada beberapa kewajiban lain lagi terhadap Al Qur’an yaitu muraja’ah, tadabbur, dan tabhligh. Kesemuanya itu adalah hal yang harus dilewati proses per Fasenya. Bukan hanya menghafal karena menghafal lebih mudah daripada muraja’ah, muraja’ah pun lebih mudah daripada mentadabburi, mentadabburi juga lebih mudah daripada Tabligh dengan sangat baik sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya dalam kalam cinta ini.

Institut Ilmu Al Qur’an Jakarta (IIQ Jakarta) disinilah akhirnya Allah labuhkan untuk banyak-banyak mengambil hikmah (Red : Pelajaran sesungguhnya). Dan menjadi seorang Miba di Tahun 2014san, lika liku selama berada dalam lingkungan yang berbeda  fikroh ini terasa sekali awalnya dan dari sinilah mulai belajar lebih banyak lagi tentang berbagai fikroh terutama tentang hukum-hukum islam karena mengambil konsentrasi Hukum Ekonomi Islam. Di IIQ kami bukan hanya dituntut untuk memiliki prestasi di akademik namun di Tahfidz juga harus seattle. Keduanya adalah dimensi yang tidak mungkin terpisah, kuliah lancar hafalan lancar lalu lulus sarjana dan Hafidzoh. Dan setiap proses pasti memiliki ujiannya masing-masing, ujian itu datang untuk menguji seberapa kesungguhan kita, datangnya pun bisa jadi setiap waktu dan di setiap waktu itulah kami dituntut untuk membuat keduanya berjalan seiringan bersama dengan baik. Pun lebih banyak tidak seimbangnya, tapi bukan berarti menyurutkan langkah untuk berhenti dan angkat tangan lalu pergi. Alhamdulillah sudah masuk semester V dan disinilah ujian terberat sebenarnya, di semester inilah tingkat keseriusan belajar harus lebih ditingkatkan menjadi sekala yang bukan hanya serius tapi seriburius. Semoga Allah selalu membersamai dalam proses istiqomah ini aamiin.






***bersambuungg...*** 

9/08/2016

Sebuah Kisah dari Si Aku #1


Adalah ia yang dalam kefitrahannya terlampau melebihi syariatnya..
            Adalah ia yang dalam khilafnya terlampau mendominasi..
            Sedang keilmuannya mampu menghalau segala fitrah yang mulai tak terkendali dan
            Khilaf yang sudah tak karuan merajai

Ia adalah insan biasa, berada dalam pengharapan kedua orangtuanya menjadi “Sholihah”, menjadi partner dunia yang saling mengikhlaskan dalam do’a bersama di syurga, do’a berkeluarga kembali di firdausNya.. namun laku perbuatannya tidak ada yang mewakili pengharapan orang yang dikasihinya. Namun akhlaqnya jauh dari kata karimah, ah jangankan karimah, bisa jadi tiada kebaikan dalam dirinya..
Yaa, ia adalah aku.. dalam penilaian diri yang ternyata minus, bukan cukup namun minus. Maka adalah sangat bodoh apabila keberadaan diri, dhaifnya ini mempunyai sedikit ujub yang tiada hal yang mengharuskan ia ujub..
Inilah hijrah dalam mujahadah yang tiada akhir
Inilah hijrah dalam mujahadah sebagai seorang hamba
Dalam cita-cita besar sebagai ibadullah sejati
Hingga tercapai cita dari karantina dunia..
Bertemu denganNya .. Menjadi keluargaNya..
Inilah ia si “aku” yang masih dalam perbaikan laku
***
Tentang menemukan dan ditemukan, ia adalah suatu perjalanan. Perjalanan yang sudah terdapat goresannya di lauhul mahfudz sana. Maka tentang menemukan dan ditemukan, hal ini bukan tentang siapa tapi tentang bagaimana. Bagaimana perjalanan ini, penantian ini, apakah penuh dengan berkebaikan atau menanti dengan penuh kerisauan sehingga tiada progresifitas dalam memperbaiki diri. Risau adalah wajar dan pasti kita semua selalu dalam kerisauan, entah terkait dengan siapa atau tentang bagaimana jikalau perbaikan ini tiada berakhir dan Allah memberi jeda yang semakin lama pabila si kebaikan itu tak jua menjadi nama belakang kita. Dan ini menjadi bagian penting dalam episode perjuangan menempuh setiap karantina di fananya dunia. Inilah ia atau si “aku” dengan ribuan kata yang tak bisa semua terucap namun terangkai lengkap dalam sebuah perjalan hidup menemukan dan ditemukan..
Dan inilah jejak yang telah terlanjur ditapaki seseorang yang masih dalam mujahadah yang besar untuk menjadi shalihah..***


Lahir dari keluarga yang bisa dikatakan paham akan agama, norma, terlebih lagi hukum islam. Dalam keluarga yang familyable, setiap anggota keluarga menjalankan fungsinya masing-masing dengan sangat baik, sampai pada pola pendidikan yang sangat islami dan cenderung terlihat mengekang dengan penjagaan yang lumayan super ketat dan terprogram rapih. Dengan membersamai kedua orangtua yang kesibukannya tiada lepas dari membersamai jama’ah, terus berishlah bersama jama’ah dan dapat dikatakan sempurna sudahlah polanya, pola dalam menjaga keluarga seperti dalam kalamNya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ...”
 At tahrim :6


 Namun begitulah sempurnanya dalam pandangan kasat mata manusia, tanpa perkiraan bahwa setiap insan terlebih banyak membersamai keburukan dan asyik dengannya. Syetan menjadikannya indah dan tanpa sadar terlampau jauh dan jatuh dalam lingkaran yang jauh dari memuji kebesaran Allah. Itulah ia dengan sempurnanya kedua orangtua dalam menempuh jalanan sebagai seorang abid Allah, namun si Aku tiada tersentuh dalam visi besar orangtuanya. Barangkali  bukan tidak tersentuh, namun dalam perjalanan ia sebagai seorang anak, ia menemukan banyak sekali kebosanan, bosan dengan kebaikan, bosan dengan kondusifnya keadaan, bosan dengan segala aktifitas yang menenggelamkan dalam kecintaan pada RabbNya. Barangkali mungkin ia memang menginginkan hal yang ia pun bisa sama rasakan bersama dengan teman sepergaulannya, layaknya seorang gadis yang dapat pula merasakan cinta dalam kacamata remaja. Bukan hanya satu atau dua tapi lebih dari tiga. Ia pernah terjerumus dalam lingkaran “ayah-bunda” versi cinta remaja. Dalam pandangannya, ini adalah suatu fase yang biasa dan harus dilalui, pacaran adalah suatu hal yang sangat wajar untuk ia dan masanya. Pertama kali ia jatuh dalam cinta versi dirinya, dengan teman satu kelas yang dalam kriteria standar termasuk laki-laki yang good looking, pintar di kelas dan cukup dikenal banyak orang. Pacaran dalam pandangannya ketika itu, hanya sebatas surat menyurat dengan kalimat cinta atau rindu yang dituangkan dalam satu lembar kertas surat yang dibubuhi minyak wangi. Namun itu pacaran dalam versi ia sebelum masuk ke sekolah menengah atas. Dan kala itu, ia sudah melewati masa cinta versi surat menyurat tapi cinta versi anak SMA dengan segala ragam budaya pacarannya, entah itu dengan dibumbui belajar bersama dan  lain sebagainya. Selama SMA bukan hanya sekali atau dua kali tapi beberapa kali ia kadung kecemplung dalam pola yang semakin dirasa biasa, pun saat itu ia masuk dalam lingkaran cinta pekanan yang setiap pertemuan tidak bosan-bosannya menasehati tentang hal itu, namun tiada satupun yang mampu merubah ia. Ia masih kokoh dengan kejahilannya yang tiada terasa itu. Begitu rumit perjalanannya kala itu, di masa-masa yang seharusnya produktif dengan menumbuhkan visi untuk membuat karya besar, ia habiskan waktunya dengan hal yang menyenangkan versinya.





***
Sambungbersambung...


 

7/16/2014

Hati yang terpilih

dakwatuna.com – Masih dalam kebimbangan yang sama. Nayla masih larut dalam syair-syair lagu nasyid pernikahan. Mendadak hatinya meragu, apa yang salah dengan dirinya hingga terasa begitu sulit baginya untuk meniti jalan itu.

“Nayla sudah siap menikah?” tanya Umi Aina pekan lalu. Pertanyaan Murabbiyahku itu sontak menghadirkan desir hebat di hatiku.

“Ng… Insya Allah sudah, Umi. Memangnya ada apa ya, Umi” Umi tersenyum mendengar jawabanku yang setengah yakin.

“Hmm, ini ada ikhwan yang mau cari istri. Insya Allah shalih, bagaimana?” seloroh umi sembari menyodorkan amplop besar berwarna cokelat yang kuyakini isinya berupa biodata sang ikhwan.

“Kalau Nayla memang sudah siap menikah di jalan Allah, silakan Nay pelajari dulu biodatanya. Jika merasa cocok, segera beri tahu Umi agar bisa segera diproseskan ta’arufnya”, sambung Umi Aina. 

Deg, seolah darahku mengalir cepat ke kepalaku menghadirkan setumpuk bintang yang berputar-putar di dalamnya.

Dengan mengucap basmalah sembari menarik nafas dalam-dalam, perlahan tanganku meraih amplop cokelat yang diletakkan umi di hadapanku.

“Akan Nay pelajari, Umi. Insya Allah selambat-lambatnya dalam waktu dua minggu ini Nay kabari,” jawabku mencoba meyakinkan hati.
***
Usai menunaikan shalat isya, kuhempaskan diriku di tempat tidur. Kuraih amplop cokelat yang tadi sore diserahkan Umi Aina. Perlahan kukeluarkan setumpuk berkas di dalamnya, dan kubaca biodata yang tertulis di sana.

Masya Allah! Ini kan…? Akhi Fariz?” aku tersentak saat membaca sederet nama yang tertulis di halaman pertama itu. Untuk lebih meyakinkan, kubaca dengan cepat data lainnya dan segera kubuka lembar foto yang terlampir.

“Ya Allah…,” lagi-lagi aku terpekik. Biodata dan foto itu… ternyata milik seorang ikhwan yang sangat kukenal. Akhi Fariz, dulu dia adalah seorang ketua rohis saat aku menjadi mahasiswa baru di fakultasku. Siapa yang tak mengenal Akhi Fariz, lelaki shalih, tegas, dan sangat terjaga. Sepak terjangnya di dunia dakwah kampus pun tak ada yang meragukan. Dan hari ini, saat ini, biodatanya telah sampai ke tanganku. Biodata seorang ikhwan yang kutahu menjadi dambaan banyak akhwat. Subhanallah… 

Akhi Fariz, aku tahu dia ikhwan yang baik sangat terjaga. Tapi…
***
“Bagaimana Ukhti Nayla? sudah dilihat biodata ikhwannya?” tanya Umi Aina di halaqah berikutnya.

“Sudah, Umi,” jawabku lemah. Aku tertunduk saat Umi Aina menatapku lembut. Aku sudah menganggap umi seperti ibu kandungku sendiri.

“Lalu, apa sudah dipertimbangkan?” tanya umi lebih dalam.

Lagi, aku terdiam. Senyum lembut dan tatapan teduh umi membuatku ragu untuk menyampaikan apa yang sebenarnya aku rasakan.

“Maaf, Umi. Sebenarnya Nayla sangat tahu kalau Akhi  Fariz adalah lelaki yang sangat baik, selama Nayla mengenalnya dan pernah berkomunikasi dengannya beberapa kali, dia begitu sopan. Keshalihannya pun Nayla tak meragukannya.”

“Jadi, Nayla sudah mengenal Akhi Fariz sebelumnya?”

“Sudah, Umi. Kami pernah satu tim di kegiatan organisasi rohis kampus,”

“Lalu, bagaimana keputusan Nayla terhadap biodata Akhi Fariz?”

“Sekali lagi maaf, Umi. Telah berulang kali Nay mencoba menyelami dasar hati Nay untuk menemukan barang sedikit saja rasa terhadap Akhi  Fariz, tapi hingga saat ini Nay belum menemukannya, bahkan Nay pun sudah istikharah beberapa kali, ” jelasku ragu. Aku takut umi akan marah jika aku menolak lelaki shalih itu.

“Nayla, jika memang Nayla ingin menikah di jalan Allah. Pilihan terhadap lelaki shalih adalah jalan yang tepat. Jika Allah ridha, insya Allah rasa cinta akan hadir di tengah kalian seiring berjalannya waktu, bukankah Nay selalu bilang bahwa cinta dalam pernikahan bisa diupayakan?” lembut senyum umi merasuk hatiku. Aku tertunduk malu mengingat kalimat yang sering kuucapkan saat menjawab keraguan kawan-kawan dalam hal pernikahan yang kini justru kuhadapi.

“Nay takut tidak bisa menghadirkan cinta itu, Umi. Maafkan Nay,” aku menggigit bibir mencoba menahan kalimat yang baru saja terucap.

Lagi-lagi umi tersenyum mendengar jawabku, “Jika Nayla sudah memutuskan seperti itu, tidak apa-apa. Mungkin memang belum jodohnya,” bijak umi.

”Sekali lagi maafkan Nay, Umi

“Tidak apa-apa, Umi mengerti apa yang Nayla rasakan. Memang tidak bisa dipaksakan jika kita merasa belum menemukan kecocokan atau mungkin Nayla memiliki pertimbangan lain yang tidak bisa disampaikan kepada Umi.

Aku tersentak mendengar kalimat umi yang terakhir. Pertimbangan lain? Seketika kuteringat pada sebuah nama. Ya, sebuah nama yang kini bersemayam di hatiku, sebuah nama yang kuharapkan tertulis dalam biodata yang diajukan Umi Aina. Astaghfirullah…
***
“Nayla, sudah siap menerima tawaran ikhwan berikutnya?” tanya Umi Aina setengah bercanda tiga bulan pasca penolakanku terhadap Akhi Fariz.

“Eh, masih punya stok ya, Umi?” balasku bercanda.

“Masih ada beberapa lagi Ikhwan yang minta bantuan Umi untuk minta dicarikan calon istri. Ya, barangkali ada salah satu di antara mereka yang cocok sama Nayla,”

Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan umi. Ada rasa haru singgah di hatiku atas perhatian umi yang berusaha memilihkan jodoh terbaik untukku, memang hingga saat ini dari delapan akhwat binaan umi hanya tinggal aku sendiri yang belum menikah. Namun aku pun malu untuk menerima tawaran umi berikutnya, karena nyatanya aku belum siap untuk menerima ikhwan lain di hatiku. Ya, ikhwan lain selain Akhi Ardi. Seorang ikhwan yang namanya kini bersemayam di hatiku. Seorang ikhwan yang mengajarkan aku banyak hal tentang Islam secara benar sebelum akhirnya aku mengenal Umi Aina yang kini menjadi murabbiku.

Umi…,” panggilku ragu.

“Iya, Nay. Ada apa?”

“Berdosakah bila seorang akhwat memendam kekaguman terhadap ikhwan?” sebuah tanya pun akhirnya keluar dari bibirku dengan sangat hati-hati.

“Tidak, selama kita mengendalikan perasaan kita agar tidak menjadi kekaguman yang berlebihan.”

“Lalu bagaimana jika kekaguman itu telah menjadi sebuah harapan terhadap si ikhwan, Umi?”

“Boleh saja jika kita mengharapkan seorang ikhwan, tapi kita juga harus tahu, akhwat seperti apa yang diharapkan oleh si ikhwan tersebut,” aku terpaku mendengar jawaban umi. Ada benarnya juga. Belum tentu akhwat yang diharapkan oleh ikhwan yang kita harapkan itu adalah kita.

“Nampaknya Nayla sedang jatuh cinta, ya? Hayoo…,” goda umi.

Aku tersenyum, semoga saja umi tak menangkap rona merah di wajahku.

“Berdosakah bila kita jatuh cinta, Umi?” lirihku.

“Jatuh cinta adalah hal yang biasa. Siapa yang membuat kita jatuhlah yang menjadikannya tidak biasa,” jawab Umi Aina tenang.

“Jika memang benar Nayla sedang jatuh cinta, sebaiknya segera dieksekusi,” sambung umi.

“Maksud Umi?”

“Siapa ikhwannya? Biar Umi bantu sampaikan lewat murabbinya.”

Hah?! Haruskah kuceritakan tentang Akhi Ardi kepada Umi Aina? Tentang perasaan yang cukup lama menjadi hiasan di taman hatiku?

“Em… enggak kok, Umi. Nay cuma sekedar bertanya aja kok,” elakku. Kutangkap senyum penuh makna dari wajah umi. Aku hanya tertunduk, kikuk. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini.
***
Aku terpana melihat selembar kertas undangan walimah pernikahan yang tertuju atas namaku tergeletak di meja tamu. Segera kuraih kertas wangi berwarna hijau tua keemasan itu. Muhammad Ardian, kutatap lekat nama yang tertulis sebagai mempelai pria. Ada guncangan yang sangat tiba-tiba menghujam jantungku membuat detaknya berlari semakin cepat. 

Kini belum lah saatnya, aku membalas cintamu… sebait syair nasyid berjudul nantikanku di batas waktu berdering dari HPku, sebuah kalimat bertuliskan 1 pesan belum terbaca menghiasi layar ponselku. 

Assalamu’alaikum, Ukhti. Tadi ana mampir ke rumah anti. Tapi antinya sedang tidak di rumah. Sudah terima titipan undangan ana? mataku basah membaca SMS yang baru saja kuterima, lalu perlahan butiran-butiran beningnya berjatuhan membentuk lukisan kristal di kertas undangan pernikahan yang masih berada dalam genggamanku. 

Wa’alaikumussalam, sudah, Akhi. Barakallah… selamat atas pernikahan Antum. Semoga dilancarkan prosesnya. Ada perih yang kurasakan saat kucoba tegarkan hatiku. Tiba-tiba kuteringat pada Akhi Fariz, lelaki terjaga yang dipilihkan umi untukku yang tiga bulan lalu telah kuabaikan hanya demi perasaanku terhadap Akhi Ardi yang kini justru telah menemukan tulang rusuknya yang bukan ada padaku. Tambah perih ketika teringat taushiyah umi pekan lalu, “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.“

3/19/2014

Ini Bunda, Nak

Banyak yang ingin aku nyatakan dalam khayalanku ini, aku mengandungmu nak, menikmati masa-masa ketika engkau mulai tumbuh di rahimku, setiap pagi lemas dan muntah-muntah menjadi aktifitas yang tak terlewatkan dan itu membuatku semakin lemas, tulang-tulangku mulai terasa semakin lemas pula ketika kau mulai tumbuh dan tumbuh di rahimku, seharusnya aku giat minum susu karena itu yang bisa membuatku agak kuatan, tapi apalah daya makanan pun tak berani masuk karena aromanya semakin hari semakin tak enak dicium, seharusnya aku minum susu karena itu tambahan kalsiumku karena kalsium yang aku punya menjadi kekuatanmu di rahimku. Tapi aku semakin hari semakin menikmati masa-masa ini, masa-masa ketika tak enak untuk beraktifitas apapun, tidur pun rasanya tak nikmat, karena itu lebih baik aku tilawah Al-Qur’an untuk menemanimu nak, sebisa mungkin aku tilawah satu hari 5 juz, untuk mengulang-ngulang hafalanku juga mengenalkan padamu makhluk Allah yang akan menuntun kita menuju syurgaNya. Tapi aku juga tak mau terus sendiri menemanimu nak, ayahmu segera pulang dari perjalanan dakwah dan mengais rezeki, ayahmu akan menemani kita yang sudah lama berbincang bersenandung syahdu membaca kalamnya, ayo Yah temani kita, ayo Yah setoran muraja’ah dulu sini sambil elus-elusin perut bunda, bunda istirahat dulu ya, biar mujahid kita yang mendengarkan suara syahdu ayah.

Usia kandunganku menginjak ke-8 bulan kata dokter harus banyak olahrag, jalan kaki keliling rumah, jangan bed rest lagi. Menanti kelahiranmu di dunia nak, bunda tak sanggup lagi menahan air mata karena sangat bahagia karena sekarang ada yang menemani bunda ketika ayah pergi. Kau adalah titipan Allah yang harus bunda jaga nak, namun maafkan bunda jika suatu hari nanti bunda melakukan kesalahan yang menyakiti hatimu tapi bunda sesungguhnya sangat menyayangimu maka dari itu bunda akan menjagamu erat. Menginjak satu tahun pertumbuhanmu sangat cepat nak, kau sudah hafal huruf-huruf hijaiyah dengan lancar, bahkan mengucapkan bismillah pun sudah lancar. Semakin hari semakin cerewet dengan semua pertanyaan-pertanyaanmu yang serba ingin tahu, menginjak dua tahun kau sudah terbiasa dengan aktifitas bunda di rumah yang menyempatkan muraja’ah ketika mencuci baju, beres-beres rumah atau bahkan cuci piring. Bunda kaget ketika mujahid bunda tiba-tiba hafal surat-surat pendek. Menginjak tiga tahun kau sudah mulai bosan di rumah, karena melihat anak-anak lain sudah masuk sekolah padahal anak-anak lain sudah satu-dua tahun diatasmu nak. Melihat kau tumbuh dari hari ke hari semakin takjub dengan kuasa Allah, bunda diberi nikmat yang luar biasa dengan hadirnya kau nak. Kau bisa dengan bebas berekspresi dengan sangat menggemaskannya, terlebih sering kau menumpahkan semuanya dengan tangisan, maafkan bunda ya nak ketika kau menangis bunda tak mampu menahan air matamu, bukan karena bunda tak mau tapi karena tidak semua keinginanmu dapat dikabulkan oleh tangisan, karena nanti kau akan mengerti betapa kerasnya dunia ini, dan tidak dapat di luluhkan oleh tangisan saja nak.

Bunda ingin melihatmu tumbuh dengan kaya akan kebaikan nak, untuk bekal nanti di akhirat sana. Tak banyak yang bunda pinta, hanya berharap kau menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi sesamamu. Bunda ingin melihatmu tumbuh dengan Al-Qur’an nak, untuk bekal nanti di akhirat sana. Maka dari itu di usiamu yang masih sangat kanak-kanak bunda mulai mengajarkanmu baca Al-Qur’an dan mulai dibiasakan dengan menghafal Al-Qur’an.

Kelak, ketika kau semakin tumbuh kau akan mengerti sendiri mengapa kita akan jauh berbeda dengan yang lain. Setiap hari sebelum berangkat sekolah bunda sudah mentalaqqikan surat yang harus dihafal hari itu, kau dengan wajah kanak-kanakmu dengan lapang dada menuruti kata-kata bunda karena kalau tidak kau sendiri kena akibatnya, weekend ini hanya bisa di rumah saja jika target hafalannya tidak tercapai. Kelak kau akan mengerti dengan sendirinya nak, hidup ini ya tidak sekedar hidup untuk hidup saja. Tapi hidup untuk mati, jangan sampai ketika sudah masanya perbekalan kita masih terasa ringan, sedangkan perjalanan menuju akhirat sungguh sangat jauh nak.
***

Goes to 20th, menurutku itu salah satu hal sulit yang harus tetap dijalani, fiyuuuuhh spiritnya harus beda karena kepala dua. Aku semakin membebani diriku sendiri dengan seabrek masalah khayalan yang belum jadi masalah di kenyataan. Sekarang ada deadline yang harus segera dibayar, plus ada sesuatu yang harus segera dimulai untuk perbekalan nanti. Ada banyak godaan, bertubi-tubi banyaknya. Tapi meskipun begitu InsyaAllah aku harus terus-menerus memperbaiki niatku, mempercepat langkahku, bermujahadah lebih keras, bukan karena nafsu tapi karena ada banyak hal lain yang belum aku mulai dan harus aku mulai.

Yang terakhir untuk calon imamku yang bukan menjadi rahasiaNya. Maafkan aku jika kali ini aku masih saja sering melalaikan waktu, bermaksiat, tergoda dengan berbagai cobaan, tapi aku terus-terusan beriltizam untuk terus memperbaiki diriku, tak ada yang bisa kuubah dari masa laluku maka dari itu aku hanya bisa mengubah masa depanku dengan memperbaiki diriku di hari ini. Maafkan aku yang sedikit ilmu, tidak lihai serta tidak seanggun yang kau harapkan. Inilah aku dengan semua apa adanya aku. Aku ingin kita sama-sama bersinergi untuk kehidupan akhirat kita. Sehingga kita bisa saling memberi syafa’at di akhirat kelak. Kau membawaku ke syurga bersama jundi-jundi kita kelak. Allahumma Aamiin...
***

GALAU’ERS 20TH WANNABE !
RUMAH QUR’AN STAN, 00:08 20MARET 2014
SYAHIDAH MUTHMAINNAH